Langsung ke konten utama

Review Novel Kisah Langit, Cerita Romance yang Cocok Dibaca Bahkan Untuk yang Gak Suka Romance Sekalipun?

Halo semuanya! Kembali lagi bersamaku di review time nah kali ini aku bakalan ngereview satu novel yang bergenre romance yang ditulis oleh penulis Indonesia yaitu Kisah Langit yang ditulis oleh Arum Effendi. Jadi tanpa berlama-lama lagi langsung saja kita mulai.


 

Novel ini bercerita tentang seorang gadis bernama Rahani yang mengidap suatu penyakit yang menyebabkan indra pendengarannya sedikit berkurang. Dia hanya mempunyai satu-satunya teman yang selalu ia jadikan tempat untuk berteduh yaitu Bayu. Suatu hari mereka berdua mempunyai tempat bermain baru yaitu di depan sebuah jendela raksasa di suatu rumah kosong di depan rumah Rahani. Singkat kata mereka akhirnya semakin sering berada di sana. Sampai suatu ketika Rahani seolah diberi cobaan yang bertubi-tubi, pertama karena Bayu mendadak menghilang sehingga rahani tidak mempunyai seorang teman satu-satunya; kemudian ayah serta kakaknya meninggal dalam sebuah tragedi kebakaran, yang menyebabkan kini tinggal Rahani yang harus merawat ibunya seorang diri. Suatu ketika pula seorang pemuda misterius muncul di kehidupan Rahani dan perlahan-lahan pemuda itu mengubah hidup Rahani kembali. Lantas bagaimana Rahani menjalani kehidupan selanjutnya, kamu bisa baca sendiri di novelnya ya! Dari sini saja sudah tercium, bukan, unsur cute romancenya?


Narasinya di sini menggunakan sudut pandang orang pertama dan nanti akan diceritakan dari sudut pandang dua orang tokoh. Yang pertama pastinya kita akan mengikuti narasi dari Rahani dan narasi selanjutnya menggunakan sudut pandang dari suatu tokoh. Penulis di sini menggunakan pembeda dari kata ganti subjeknya untuk masing-masing sudut pandang, yang mungkin ditujukan supaya pembaca tidak terlalu bingung. Untuk narasi dari Rahani menggunakan kata "aku" sementara untuk narasi dari tokoh lain menggunakan kata "saya". Menurutku narasinya gak ada masalah dan bahkan narasinya di sini sebegitu enaknya hingga aku bisa tersedot ke dalam ceritanya.


Alur di sini menggunakan alur maju yang dimulai dari kita akan diperkenalkan oleh kehidupan gadis kecil bernama Rahani yang menerima suatu paket yang dia keheranan saat melihat isi di dalamnya, namun apa yang ada di dalam paket itulah yang membuatnya menjadi merasakan rindu terhadap sosok yang selama ini dia rindukan. Begitu terus selanjutnya kita akan mengikuti cerita Rahani hingga mereka menemukan sebuah tempat bermain baru, yaitu jendela besar di suatu rumah kosong dan jendela tersebut memiliki label di kusennya yang mereka sepakati bernama Jendela Leiden.


Selanjutnya untuk tokoh-tokoh nah di sini nggak terlalu banyak dan aku suka bagaimana tokoh utama kita ini alias Rahani mengalami perkembangan karakter yang sangat signifikan. Di awal cerita kita akan tahu Rahani yang seperti itu menjadi sosok Rahani yang tangguh dengan kehidupan. Kalau bicara masalah tokoh yang kurang aku suka, mungkin bisa kubilang adalah Bunda Rahani yang menurutku terlalu egoisme dan memandang anak itu dan kemampuannya dalam memainkan suatu musik yang mana itu bukanlah passion dari anaknya. Namun overall menurutku di sini semuanya sudah cukup pas.


Untuk hal yang aku suka di sini tentu saja dengan cerita yang disuguhkan di dalam sini. Bisa kubilang ceritanya cukup manis dan ringan. Dan di beberapa bagian juga dapat mengguncang emosi kita atau membuat kita merasakan simpati terhadap tokoh yang ada di dalam sini. Dan juga aku suka mengenai deskripsi dari penulis baik deskripsi tempatnya maupun makanannya. Aku juga suka bagaimana penulis memasukkan berbagai macam unsur ke dalam sini, sebut saja seperti astronomi; arsitektur; bahkan sejarah peperangan dulu. Pokoknya penulis sangat kucup dan lihai untuk menjabarkan sesuatu di sini.


Sementara untuk hal yang kurang aku suka di sini itu mungkin terletak pada gaya narasinya. Mungkin karena menggunakan dua kata ganti subjek yang berbeda yaitu "aku" dan "saya", menyebabkan di beberapa part agak selip sehingga aku sedikit bingung siapa yang dimaksud. Dan juga kadang penulis memasukkan kata yang merujuk namun seolah menggunakan narasi point of view orang ketiga yang membuatku berpikir penulis kurang bisa mempertahankan sudut pandangnya. Aku jujur beberapa kali dibuat bingung dan kesal sih, ya. Belum lagi mengenai makna judul novel ini sendiri, aku sejujurnya belum bisa mengaitkan dan rasa-rasanya judulnya kurang tepat atau bahkan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isi cerita ini. Mungkin akan lebih bagus jika judulnya "Kisah Jendela Leiden" atau "Bayu dan Rahani di Leiden" or something like that.


Oke ini adalah poin terakhir alias rating dan atas beberapa pertimbangan di atas aku mau kasih novel ini 3,8 dari 5 bintang. Meskipun dengan kekurangan yang sempat aku singgung tadi itu tidak menutupiku untuk mengatakan bahwa buku ini bagus. Aku rekomendasikan ke kamu kalau kamu mungkin lagi cari bacaan selingan yang ringan dan mungkin buat yang gak terlalu suka romance kayak aku bisa banget buat cobain baca ini.


Oke itu tadi adalah reviewku mengenai novel Kisah Langit yang ditulis oleh Arum Effendi. Terima kasih buat yang sudah baca sampai sini, dan sampai ketemu di blog selanjutnya!

Komentar