Pernahkah kalian merasa dalam hidup kalian ada momen di mana kalian seperti "terlalu cepat berpikir" atau yang biasanya disebut sama orang-orang sih, terlalu cepat mengambil kesimpulan? Meskipun seringnya kita sudah cukup sering mendengar dari banyak media informasi untuk melatih berpikir kritis, rasa-rasanya ada satu momen di hidup kita yang bikin kita jadi nggak bisa berpikir kritis, karena keburu tersulut emosi?
Aku rasa, buku Think Again karya Adam Grant ini cocok kamu baca kalau kamu mengalami kejadian serupa. Di mana di buku ini kamu akan diajak untuk berpikir kembali mengenai semua hal yang terjadi di dalam hidup. Butuh waktu lama memang, tapi justru itulah yang bisa bikin kita lebih maju dan siap mengalami comeback di hidup kita.
Kalau kalian penasaran review selengkapnya, langsung saja kita mulai!
Lewat buku ini kita akan diajak menjelajah sebenarnya seperti apa sih kondisi-kondisi yang bisa kita pertimbangkan untuk berpikir ulang baik untuk diri sendiri, antarpribadi, ataupun antarkelompok.
Di review kali ini aku akan membedah masing-masing tiga bagian besar yang sudah disebutkan tadi supaya kamu bisa dapat gambarannya dengan jelas ya!
#1 Berpikir Ulang Untuk Diri Sendiri
Terkadang kita pasti sering merasa bahwa kita terlalu pede dengan apa yang kita kerjakan, merasa kita menemukan terobosan baru, dan bahkan cenderung menyalahkan orang-orang yang nggak sepaham dengan kita. Penulis sendiri menyadari bahwa hal itu memang cukup sering terjadi, khususnya di kalangan pebisnis. Ternyata secara psikologi ada loh penamaan untuk fenomena ini alias Dunning Kruger Effect, di mana kita merasa sudah di atas tapi nyatanya semakin kita mendalami peran dan minat kita, nyatanya kita masih tidak tahu apa-apa bahkan ada sesuatu yang lebih "mengerikan" lagi menunggu kita.
Arogansi yang dimiliki seseorang sampai-sampai dia merasa tidak ingin belajar dari orang lain, yang dikatakan berhasil, terbagi menjadi empat kelompok menurut Adam Grant yaitu: pemikir ala pengkhotbah, jaksa, politikus, atau ilmuwan. Sikap pola pikir ini sangat memengaruhi bagaimana kita menerima dan mengolah informasi ke depannya. Let say untuk pengkhotbah, pastinya dia merasa yang paling benar dan bahwa tidak ada tanda untuk audiens memikirkan ulang dan melakukan diskusi sehingga kita 100% memercayai apa yang dikatakan sang pengkhotbah. Hal ini ternyata nggak jauh berbeda untuk jaksa dan politikus. Lain lagi dengan ilmuwan, yang cenderung mencoba mencari kebenaran dari berbagai arah namun tidak menutup telinga ketika hipotesisnya tidak sesuai harapan. Penulis mengharapkan kita lebih bersikap seperti ilmuwan ini.
Pernahkah kalian mendengar istilah bahwa orang yang pendiam, pikiran dan ucapannya lebih mematikan? Penulis sempat membahas hal itu di sini mengenai fenomena "si penyamar". Terkadang ada loh orang-orang yang tanpa sadar dirinya sebenarnya kompeten atau mampu melakukan sesuatu, tapi karena dia merasa tidak ingin disorot akhirnya memilih diam. Nggak luput juga si penyamar ini kadang sudah tahu dia mengetahui sesuatu namun dia lebih memilih berada di pihak yang bersebrangan untuk mengetahui apa yang tidak dia ketahui.
#2 Berpikir Ulang Untuk Lingkup Antarpribadi
Di bagian ini penulis lebih banyak membahas mengenai bagaimana sih kita menggunakan pikiran kita untuk melihat ulang, mengkaji, bahkan me-reset pikiran kita terhadap sesuatu yang sudah sangat melekat. Baik itu berupa stigma yang sudah kita dapatkan dari kecil atau yang beredar dari mulut ke mulut. Memang proses untuk mendapatkan pemikiran ulang yang clear ini butuh waktu yang tidak lama, namun jika kita lebih mendalaminya maka kecenderungan kita untuk tidak menyerang secara personal juga akan meningkat.
Penyerangan secara personal sering kita temui atau istilah kerennya adalah ad hominem, di mana kita mulai merancu, mulai keluar dari jalur pembahasan pokok, dan mulai menyerang lawan bicara kita secara personal baik dari segi fisik, personality, atau pun hal-hal yang berkaitan dengan pribadi lawan bicara kita. Memang ada kalanya kita merasa kesal jika pendapat kita tidak sejalan dengan lawan bicara, namun kita juga harus berpikir ulang: apa yang menyebabkan lawan bicara bisa berpikir demikian?
Terkadang kita lebih memilih untuk mendebat lawan bicara daripada berdansa dengan mereka. Bukan, di sini berdansa tidak dimaksudkan sebagai kita melakukan gerakan-gerakan tertentu untuk ditonton oleh banyak orang, melainkan penulis menjelaskan bahwa berdansa sejatinya kita mulai mengikuti ritme, alur berpikir, dan masuk ke dalam opini lawan bicara untuk diselaraskan dengan kita. Penulis mengelompokkan fenomena ini menjadi gabungan dari tiga kemungkinan yang terjadi saat kita berbicara dengan lawan bicara yang tidak "sefrekuensi" yaitu debat, dansa, dan perang. "Berdansa" diidentikkan dengan sesuatu yang luwes, mengikuti ritme, santai, dan tidak saling menyalahkan untuk terciptanya harmoni yang indah. Inilah kenapa pada bagian ini cukup dijabarkan mengenai contoh kasus di mana agresivitas tidak selalu efektif dalam membentuk keselarasan opini.
#3 Berpikir Ulang Untuk Lingkup Kelompok
Jika kita menghadapi sekelompok tertentu dengan pemikiran yang jauh ekstrem berbeda, hal ini pastinya menambah nilai tantangan bagi diri kita. Menyampaikan kebenaran dalam suatu kelompok, terutama yang telah terdoktrin cukup lama, bisa jadi melelahkan karena yang terjadi di masyarakat saat ini seringnya adalah jika kita tidak sependapat dengan sekelilng kita terkadang kita pastinya dicap berbeda, arogan, atau sok mau beda sendiri. Penulis sudah menggambarkan fenomena ini di mana sebagian besar orang memang cukup seringnya menginginkan atau menyampaikan jawaban yang singkat tanpa tahu kebenarannya seperti apa, bahkan seringnya cenderung salah.
Kecenderungan untuk melibatkan emosi pada lingkup kelompok juga mungkin terjadi dalam jumlah yang besar sehingga di sini kita harus melihat aspek komunikasi dari tiga hal ini yaitu: akurat, sederhana, dan diterima dengan baik. Namun challenge nya adalah kita hanya bisa memilih dua dari tiga unsur tersebut. Itulah mengapa, banyak orang yang cenderung menginginkan informasi yang sederhana dan diterima dengan baik saja, namun mengabaikan faktor akurasi. Inilah problem utama saat kita mulai berpikir ulang untuk lingkup kelompok.
Kesepakatan berpikir semua orang bahwa jika kita berbuat salah adalah salah satu faktor kegagalan, membuat sulitnya banyak orang mulai berkembang. Hampir sedikit orang yang berpikir bahwa jika kita berbuat salah maka itu adalah salah satu tanda kita belajar. Hampir sering aku sendiri melihat bahwa slogan "practice make perfect" di mana-mana dan itu memang nyata adanya. Setiap kegagalan yang ada pastinya membuat kita berpikir ulang, opsi apa yang sebaiknya dilanjutkan dan opsi apa yang sebaiknya dikurangi atau bahkan diganti sepenuhnya. Hal ini juga dijelaskan sebagai fenomena Keamanan Psikologis di mana kita merasa ingin main aman saja dengan apa yang sudah kita kerjakan, tidak terlalu mau mengambil risiko, yang tanpa kita sadari lama kelamaan mulai menjadi kebiasaan. Inilah sebabnya banyak kelompok-kelompok tertentu yang terasa tidak berkembang sementara orang lain sudah jauh di atasnya.
***
Setelah cukup panjang lebar aku menjelaskan isi buku ini, aku bisa bilang buku ini benar-benar membuka mata aku mengenai cara berpikir ulang yang benar. Bukan seperti overthinking yang mengharuskan kita berpikir terus-menerus secara acak, tidak terpola, dan tidak terdefinisi, berpikir ulang di sini adalah bagaimana kita menyusun kerangka kita dalam mencari masalah, menyusun solusi, dan menyelesaikan masalah lewat solusi yang lebih matang.
Think Again tidak bisa diartikan sebatas kita membuat plan A, plan B, atau plan-plan lainnya seandainya kita gagal, melainkan mengajari kita dengan ulet bagaimana kita harus berpikir ketika kita diserang, mengulik informasi lebih mendalam, dan tidak memercayai sesuatu yang bias. Dengan penulisan bahasa yang sangat baik, aku bisa melahap halaman demi halaman di buku ini yang juga semakin membuatku paham tentang isi buku ini. Ditambah buku ini dilengkapi gambar, bagan, tabel dan berbagai visual lainnya membuatku sangat enjoy membaca buku ini.
Dengan demikian aku memberikan Think Again ini 5 dari 5 bintang. Bacaan awal tahun yang worth it untuk coba kalian baca!
Oke itu tadi adalah reviewku mengenai Think Again yang ditulis oleh Adam Grant. Terima kasih buat kalian yang sudah baca sampai sini dan kita akan ketemu lagi di review-review selanjutnya!

Komentar
Posting Komentar