Salah satu novel yang pernah aku jadikan challenge 20 Before 20, alias buku-buku yang pengen aku baca sebelum 20 tahun, yang nyatanya baru bisa terbaca di usia otw 22 tahun ini, ternyata punya cerita yang mind blowing dan bagus banget seperti kata orang-orang.
Judul novelnya yaitu We Were Liars atau judul terjemahannya adalah Para Pembohong yang ditulis oleh E. Lockhart, dan di kesempatan kali ini aku mau membahas bagaimana buku ini. Jadi kalau kalian penasaran dengan impresiku langsung saja kita mulai yuk ke reviewnya!
We Were Liars ini bercerita tentang keluarga Sinclair yang punya segalanya: mereka punya pulau pribadi, kekayaan, keluarga besar, cinta damai, cinta kasih. Sampai suatu ketika, Candice, cucu pertama dari keluarga ini mengalami sesuatu yang merubah hidupnya, dan merubah hidup keluarga Sinclair juga.
Perlahan tapi pasti, Candice merasa ada yang aneh dengan pandangan keluarga lainnya terhadap dirinya dan seiring berjalannya waktu itu pula Candice mencoba mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi.
Tentu saja pembaca jadi ikut bertanya-tanya kira-kira di titik mana cerita ini berbalik dan menemukan faktanya, dan ketika fakta demi fakta naik ke permukaan, di situlah kebohongan besar yang selama ini ditutupi mulai terpampang nyata. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana Candice mencari tahu kebenaran-kebenaran tersebut, kamu bisa baca sendiri di bukunya ya!
Narasi di novel ini digambarkan dari sudut pandang orang pertama yang akan disampaikan dari sudut pandang Candice itu sendiri. Di bagian awal kita akan mulai diperkenalkan dengan tatanan pulau pribadi yang dimiliki oleh keluarga Sinclair ini serta rumah-rumah yang ditinggali oleh tiap-tiap keluarga di sana. Di bagian awal juga tuh kita disuguhkan dengan peta dan juga pohon keluarga Sinclair untuk mendukung ceritanya. Secara bahasa novel ini enak banget untuk diikutin, yang mungkin juga karena faktor terjemahannya. Selain itu, lewat sudut pandang orang pertama kita para pembaca jadi bisa mengetahui nih apa saja yang dipikirkan Candece selama dirinya berada di pulau pribadi itu.
Alur di novel ini bisa kubilang bergerak cukup cepat dan pergerakannya secara maju. Setting waktu dari cerita ini sendiri tuh selalu ketika liburan musim panas yang mana di bagian-bagian awal tuh digambarkan ketika Candice masih berusia sekitar 15 tahun yang kemudian nantinya akan ada musim panas-musim panas lanjutannya. Tapi, seperti yang tadi aku bilang bahwa penyampaian ceritanya yang enak buat diikuti bikin aku mulai terkecoh setelah mulai menyadari bahwa kita para pembaca terjebak oleh permainan alur yang dibangun oleh penulis, yang bisa coba kamu baca supaya nggak mengurangi keseruannya.
Tokoh-tokoh di sini ada banyak banget, yang bisa kamu bayangkan sendiri ketika melihat silsilah pohon keluarga Sinclair yang bercabang-cabang ini. Tapi di sini tentu saja Candice akan mulai banyak bercengkrama dengan sepupu-sepupu sepantaran dirinya seperti Johnny, Mirren, dan Gat. Yang menjadikan keempat serangkai ini adalah sepupu-sepupu yang penuh canda tawa dan pembaca bisa melihat perkembangan karakter mereka tahun demi tahunnya. Nah, tokoh-tokoh inilah yang semakin lama kita baca semakin menemukan sebuah potongan puzzle berkaitan dengan segala sesuatu yang terjadi atau menimpa Candice.
Sekarang aku mau bahas hal yang aku suka dari novel ini. Yang pertama tentu saja dengan covernya yang cantik yang menggambarkan novel ini. Kalau kita lihat beberapa versi, novel ini memiliki sampul yang menunjukkan keindahan laut karena memang itulah sebagian besar isi dari cerita ini yang berlatar tempat di sebuah pulau pribadi yang dikelilingi oleh lanskap laut yang indah. Kemudian kalau dari isinya, aku suka dengan bagaimana kisah ini bermula hingga berakhir, dengan memainkan tokoh dan perasaan yang mencuat, disertai bumbu drama keluarga di sana-sini yang bikin ceritanya makin kompleks. Dan nggak lupa dengan plot twist cerita ini yang bikin aku syok banget ketika membacanya. Aku inget banget ketika plot twistnya diungkapkan yang mana adalah jawaban dari pertanyaan yang selama ini menggantung di kepala pembaca, bikin aku melongo dan terus-terusan kepikiran dengan apa yang terjadi di sini.
Sementara untuk hal yang kurang aku suka yaitu bagaiman novel ini di bagian awal memang terkesan membosankan karena narasinya hanya berupa pengenalan dan deskripsi dari tiap jengkal tempat yang ada di pulau itu terasa seperti hal yang bikin ngantuk. Ketegangan yang dibangun penulis memang perlahan-lahan sih bahkan aku sendiri merasa novel ini seru di 150 halaman ke atas. Tapi itu nggak menutup pendapat bahwa aku tetep suka pakai banget untuk judul yang satu ini.
Karenanya aku mau kasih 4 dari 5 bintang untuk We Were Liars ini. Bacaan yang cocok di kala ingin berkenalan dengan novel thriller yang dinarasikan dengan indah.
Oke itu tadi adalah reviewku mengenai We Were Liars yang ditulis oleh E. Lockhart. Kalau kamu pernah membaca novel ini coba tulis opininya di kolom komentar di bawah ya! Sekian dulu untuk review kali ini dan kita akan ketemu lagi di review-review selanjutnya. Dadah!

Komentar
Posting Komentar