Salah satu novel yang pengen aku baca sejak SMA lalu ini ternyata punya rating usia 21+ dan mungkin karena belum berjodoh karena novel ini sempat tidak beredar selama beberapa saat, akhirnya di tahun ini aku punya kesempatan untuk bacanya (yang tetntunya sudah berusia 21). Sekaligus sebagai pencontreng salah satu buku yang aku masukkan di challenge 20 before 20, alias buku-buku yang (niatnya) harus aku baca sebelum berusia 20 tahun.
Judul yang mau aku review yaitu Cantik itu Luka yang ditulis oleh Eka Kurniawan. Buku fenomenal yang sudah terbit dan cetak ulang puluhan kali ini rasa-rasanya pasti pernah kalian dengar sekali-dua kali ya. Jadi kalau kalian penasaran gimana impresiku terhadap novel ini langsung saja kita mulai yuk ke reviewnya!
Ketika dirinya beranjak remaja, ternyata masalah besar menanti. Tentara Jepang membawa beberapa gadis, hampir seluruh gadis di tempat tinggalnya pada sebuah camp, yang tidak lama kemudian menjadi awal dari mimpi buruk semua wanita di sana: menjadikan diri mereka sebagai pelacur.
Di bab-bab selanjutnya pembaca akan mulai dibawa melalui permainan waktu, tentang masa lalu Dewi Ayu yang kelam, masa depan Dewi Ayu yang juga tidak kalah kelamnya serta beberapa nasib tentang anak-anaknya, cucu-cucunnya, dan lingkungan tempat dirinya tinggal.
Apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana buku ini akhirnya menemukan makna "cantik", kamu bisa baca sendiri di bukunya ya!
Sekarang aku mau review dari narasinya terlebih dahulu. Diceritakan dari sudut pandang orang ketiga yang nanti akan fokus membahas banyak tokoh. Jadi di setiap bab itu kita setidaknya akan mengikuti penuturan kisah dari beberapa tokoh yang berbeda-beda, yang membuat aku tentu saja kewalahan mengikuti segitu banyaknya tokoh serta menerka-nerka apa hubungan satu sama lain. Narasinya khas novel sastra yang pernah kita baca, dan gaya bercerita Eka Kurniawan di sini sangat lugas, tegas, bahkan blak-blakan yang sepertinya akan membuat banyak pembaca kaget!
Untuk alurnya sendiri, jelas menggunakan alur maju-mundur di mana kisah ini seperti benang kusut yang lama kelamaan akan terurai dengan banyaknya detail demi detail yang menanti pembaca. Bahkan di bagian awalnya pun kita akan disuguhkan dengan cerita Dewi Ayu yang bangkit dari kubur setelah 21 tahun dinyatakan meninggal dunia. Tenang aja ini nggak spoiler karena ini ada di blurb bagian belakang buku. Begitu terus nanti kita akan mulai diperlihatkan bagaimana Dewi Ayu ini sesungguhnya dipandang dalam masyarakat, bagaimana kemudian silih berganti tokoh bermunculan yang secara nggak langsung punya andil dalam kehidupan orang-orang di sekitar Dewi Ayu.
Sekarang untuk tokoh-tokoh, jelas ada banyak sekali. Bahkan di bagian belakang buku ini ada pohon keluarga yang tampaknya aneh. Kalian akan mual ketika menyadari apa yang sebenarnya terjadi di pohon keluarga itu. Ini sekaligus disclaimer saja bahwa banyak sekali topik sensitif dan triggering seperti inses, perkosaan, dan hal-hal disturbing lainnya. Begitu pula dengan karakter tokoh di dalam sini yang sepertinya setiap saat hanya birahi. Itulah kenapa buku ini harus dibaca 21 tahun ke atas. Tokoh-tokoh di sini karena memang saking banyaknya, membahas karakter mereka satu per satu sepertinya akan menimbulkan kelelahan, tapi yang pasti ada tokoh yang bijak, tegas, pecundang, dan lain sebagainya.
Untuk hal yang aku suka di novel ini sebenarnya ada cukup banyak. Yang pertama latar cerita ini yang diambil ketika masa-masa pra, saat, dan pasca kemerdekaan yang membuat nilai historis dari buku ini cukup kental. Aku salut dengan riset penulis akan banyak hal di sini, terutama bagaimana memasukkan narasi-narasi sejarah masuknya Belanda dan Jepang yang dibahas di sini yang dipresentasikan lewat penuturan tokoh yang memiliki keturunan dari dua negara tersebut.
Selanjutnya aku juga suka dengan bagaimana novel ini sepertinya ingin menghadirkan sudut pandang baru tentang wanita yang ternyata sejak zaman dulu suka dipandang rendah dan sanggup dibisukan dengan kata-kata dan aksi senggama. Sepertinya itu adalah kritikan yang pedas yang disampaikan dengan gamblang, tanpa takut, bahkan ekspresif. Mungkin itu juga tuh yang menjadi consern sebelum membaca bahwa novel ini memang disturbing untuk sebagian besar orang.
Last but not least, aku suka dengan bagaimana ketika benang kusut mulai diulur oleh penulis, satu per satu masalah yang selama ini mengganjal, kejadian yang tidak masuk akal, mulai kelihatan aslinya yang artinya menguak perilaku satu-dua tokoh di sini yang sanggup bikin kamu syok! Terutama 100 halaman menuju akhir itu full isinya sakit kepala semua diri ini dibuat oleh buku ini. Pokoknya kamu bisa baca sendiri deh buat tau apa yang aku maksud!
Sementara untuk hal yang aku kurang suka, ini terletak di satu-dua bagian yang cukup membosankan karena hanya berisi narasi deskriptif tentang sejarah di sini yang bikin aku sempat los dan kebingungan mengikuti ceritanya. Tapi dari narasi itu sebenarnya sangat informatif yang menunjukkan riset penulis tidak main-main. Sama satu hal lagi, aku kurang suka buku ini secara hasil akhir yang alias ukuran font yang sangat mungil untuk buku setebal ini ditambah kondisiku punya minus dan silinder, hahaha. Kesalahan kecil sih, tapi at least memengaruhi aku dalam kenyamanan membaca~
Karenanya aku mau kasih 4,5 bintang untuk buku ini. Salah satu novel yang suka digadang-gadang sebagai novel wajib baca minimal sekali seumur hidup yang memang benar adanya. Berkat novel ini aku jadi penasaran mau baca karya lain dari Eka Kurniawan yang lain karena style berceritanya cocok dengan seleraku. Dan Cantik itu Luka ini aku rekomendasikan buat kamu yang suka dengan sastra, dibalut sentuhan historical fiction, sedikit bumbu magis, dan pemberontakan di sana sini.
Oke itu tadi adalah reviewku tentang Cantik itu Luka yang ditulis oleh Eka Kurniawan. Kalau kamu pernah baca novel ini coba tulis di kolom komentar gimana impresinya ya! Aku akhiri sampai sini reviewnya dan kita ketemu lagi di review-review selanjutnya, dadah!

Komentar
Posting Komentar