Kamu Bakal Memandang Dunia dengan Cara yang Berbeda Setelah Baca Novel ini! Review Sisi Tergelap Surga
Sepertinya bacaan di bulan Juli ini ditakdirkan untuk memberikan pelajaran buat aku ya? Karena novel yang mau aku bahas kali ini juga sarat dengan message yang bagus banget mengenai kehidupan juga. Mungkin kamu juga sering denger karena judul novel ini banyak berseliweran di timeline sosial media kamu.
Novel yang mau aku bahas adalah Sisi Tergelap Surga yang ditulis oleh Brian Krisna. Karena rame banget dibahas sama orang-orang akhirnya aku penasaran buat baca dan ternyata memang bagus banget. So tanpa berlama-lama lagi langsung saja yuk kita mulai ke reviewnya!
Semakin ke belakang kita akan diperlihatkan dengan kehidupan yang tidak pernah tersorot, tidak dipedulikan orang lain, sampai-sampai dapat diekspresikan dengan sebuah kalimat Sisi Tergelap Surga, alias judul dari buku ini. Yang mana setting tempatnya mengambil di Jakarta, yang diibaratkan sebuah Surga.
Surga bagi orang yang belum pernah mengunjunginya, maupun surga bagi orang yang melihat sisi keindahannya saja, tanpa pernah melirik ke sisi tergelapnya.
Wah, puitis banget ya? Tapi memang itulah yang nanti akan kamu temui di novel ini. Ceritanya terdengar jauh sekaligus dekat ya? Jauh karena setting tempatnya di Jakarta, yang mana memang jauh dari tempat aku tinggal. Tapi sekaligus dekat karena kita pasti sering melihat fenomena yang sama.
Sekarang aku mau bahas dari narasinya dulu, novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga yang akan menyoroti banyak sekali tokoh. Di bagian awal kita akan mengikuti prolog yang langsung ditumpahkan segala kekacauan dan keriuhan dari banyak tokoh di sini. Ada pemuda yang rela melepas mimpinya demi nikah muda, ada laki-laki yang baru pulang kerja subuh-subuh, ada mantan pecandu togel yang kini berjualan nasi goreng, wanita penghibur untuk memenuhi kebutuhan anaknya, dan sebagainya dan sebagainya. Membaca bagian awal ini cukup exhausted namun di bab-bab selanjutnya kita mulai diperkenalkan satu demi satu secara jelas dan lengkap sehingga pembaca bisa melihat kehidupan mereka seperti apa.
Alurnya sendiri dibangun dengan cepat, dimulai sejak perkenalan di bagian prolog yang langsung memuat kisah-kisah kehidupan dari seluruh tokoh. Karena setting tempat yang digambarkan rumah para warga berdempetan, otomatis tiap tokoh di sini jadi punya kesinambungan yang dapat kita ikuti dengan mengalir. Penulisan cerita ini juga menurut aku apik, sehingga mengikuti cerita ini benar-benar mengalir. Yang fun fact nya aku menghabiskan novel ini hanya dalam semalam, karena memang sebegitu terpukaunya dengan kelihaian penulis dalam membangun ceritanya.
Tokoh-tokohnya, seperti yang tadi aku sempat mention ya, ada banyak sekali di sini. Tokoh-tokoh di sini terkadang kalau nggak cenderung hitam, pasti cenderung putih. Dengan kesamaan di antara mereka semua, aku bisa melihat bagaimana satu sama lain seperti memiliki keluhan tertahan yang mengendap di atap rumah mereka masing-masing. Belum lagi dengan cara bertahan hidup dari beberapa tokoh di sini yang sanggup bikin aku membelalakan mata atau malah bikin sesek napas. Semua dibangun dengan apik di sini.
Sekarang aku mau bahas hal yang aku suka di sini. Sebenernya ada cukup banyak sih. Yang pertama mengenai setting cerita ini yang digambarkan vivid, dan sangat mendukung bagaimana cerita ini bergulir dari awal sampai akhir. Kemudian nggak luput dari pembangunan karakter yang kuat di dalam sini yang seolah-olah berbeda tapi mereka semua ini ada kesamaannya. Dan yang nggak kalah mengejutkannya adalah ending cerita ini yang sedikit sanggup membuat mata berkaca-kaca yang bikin kita merasa bahwa, kenapa ya hidup ini nggak adil? Tapi di satu sisi, hidup ini sudah sebegitu adilnya. Yang mana itu berlanjut ke poin terakhir yaitu pesan dari novel ini yang oke.
Meskipun banyak sekali orang yang menganggap bahwa novel ini tuh sepertinya meromantisasi kemiskinan, tapi buat aku itu no no no. Kemiskinan tidak dapat diromantisasi, dan mereka yang ada di cerita ini memang digambarkan seperti itu sejak awal, keadaan yang pasti bikin semua orang gelisah, resah, dan tidak ada yang menginginkannya dari awal. Jadi ketika aku melihat ada orang yang review dan mengatakan dengan lantang tentang hal tersebut, aku langsung kayak, "apa orang ini nirempati ya?" sampai sebegitunya menjelek-jelekkan ceritanya. Seperti yang tadi sempat aku singgung bahwa cerita ini terasa jauh sekaligus dekat, karena memang dengan adanya novel ini aku jadi merasa bahwa tidak menutup kemungkinan lingkungan di sekitar tempat tinggal kita mungkin memiliki kondisi yang sama.
Sementara untuk hal yang aku kurang suka ini terletak pada narasi penulis di beberapa bagian yang benar-benar blak-blakkan dan di beberapa bagian menyertakan adegan-adegan yang cukup bikin gelisah. Jadi aku harap kebijakan pembaca untuk diperhatikan trigger warningnya ya. Di sini cukup banyak kata-kata kasar, cacian, makian, adegan percobaan bunuh diri dan sebagainya. Dengan kondisi mereka yang seperti itu, bahkan rasa-rasanya, kita sudah tidak bisa menghalangi mereka untuk tidak berbuat seperti itu ya? Dan satu hal lagi hal yang mengganjal, adalah perihal batasan umur. Dengan sebegitu banyaknya hal yang barusan aku sebut, novel ini ratingnya 17+ saja, yang mana menurutku patutnya untuk 21 tahun ke atas. Aku yang 21 tahun aja kaget gimana kalian yang 17 tahun?
Karenanya atas pertimbangan-pertimbangan tersebut aku mau kasih 4,5 bintang untuk novel ini. Belum sampai 5 bintang full karena kekurangan yang tadi aku sempat mention.
Oke itu tadi adalah reviewku mengenai novel Sisi Tergelap Surga. Sebuah novel yang benar-benar bikin menghembuskan napas panjang setelah baca ceritanya. Kalau kamu sudah baca novel ini bisa kasih tahu opininya di kolom komentar di bawah ya. Sekian dulu reviewnya, dan kita akan ketemu lagi di review-review selanjutnya. Dadah!

Komentar
Posting Komentar